it’s jannerthing!

January 23, 2008

Sandy Serigala

Filed under: Family — jannerthing @ 1:20 pm

Tereliminasi terhakimi

Kalian bukan mereka

Era baru, milik kalian, hapus norma usang

Tampak beda, tak meyakinkan?

Hanya sisi luar saja

Kau serigala,

Yang terendam, cukup sudah kau terinjak

Buka pikiranmu (luaskan sudut pandang)

Leleh dengan perlakuan dunia, saat unjuk taring

Mereka tak mengerti [serigala]

Kau tidak sendiri [militia]

Lewati jalan hari ini

Lewati jalan, tetap impresif.

Ayo. Kita Taklukan

[Serigala Militia - Seringai]

21 Januari,

Untuk adikku, Sandy Simon yang terpenjara,

Kau tidak sendiri lewati hari ini

Selamat ulang tahun ya, Dek!

TUHAN memberkati

January 19, 2008

Shit Happens!

Filed under: Family — jannerthing @ 5:45 am

5 Januari, sekitar jam 11 malam

Adik saya dan 3 orang temannya ditangkap polisi di kos salah satu dari mereka. Tertangkap tangan sedang bermain judi kartu dengan uang taruhan. Tertangkap karena operasi penangkapan target operasi narkoba yang juga kos di tempat yang sama gagal, sang target operasi kabur. “Kenapa bisa kabur, Pak?” ;-)

Dan seperti cerita dongeng sebelum tidur, tak mungkin pemburu pulang tanpa membawa hasil. Adik saya dan tiga temannya yang sedang bermain kartu di kamar lain ditangkap. Freeze! Busted dudes…

Berapa yang mereka pertaruhkan? Hanya seribu rupiah tiap orang. Hell yeah..malam minggu, empat pemuda berkumpul, tanpa pacar, kesepian. Awal hanya membunuh sepi dengan bermain kartu, lalu memanas dengan taruhan. It’s so typical for you, aren’t you?

Pasal 303 KUHP bis 1 (maksimal 2 tahun penjara atau denda 10 juta rupiah)

“SHIT HAPPENS!”

16 Januari, 21.16 WIB

Saya menelepon bapak. Ujar beliau, “Tadi udah ngambil motor adikmu yang disita, hp yang flexy juga tapi hp N70, ikat pinggang yang kamu beliin dari Bogor sama sandal adikmu gak ada. Kata polisinya, gak tau kemana.”

Tergambar jelas di benak saya, dia ditelanjangi (mungkin setengah badan) naik ke atas mobil patroli bersama “teman seperjuangan”nya seperti biasa ditampilkan di layer terlevisi. Dan oh..kehilangan hp, ikat pinggang, dan sandal karena taruhan seribu rupiah. We’re robbed!! Ya, seperti dirampok tanpa perlawanan dan itu dilakukan atas nama kebenaran dan keadilan

“WHAT THE ?”

17 Januari, 11.05 WIB

Telp dari bapak, “Ini adikmu mau ngomong.”

Orang tua saya ternyata sedang menjenguk adik saya.

“Iya bang, dari 10 hp yang disita yang balik cuma 8. Satu lagi N73 punya temen saya. Paling kalo tangan saya juga disita bisa hilang di sini.” Saya menangkap nada kepahitan dan sinisme dari nada kalimatnya.

“Hapal kok nama dan wajah mereka satu persatu” tambahnya lagi

“WATCH, REMEMBER AND LEARN!”

Tiga hari sebelum kejadian adik saya pergi ke bandung untuk interview promosi jabatan di kantornya. Sebelumnya dia bercerita ingin berganti hp, “Dulu beli gara-gara bagus bentuknya tapi fungsinya dikit ternyata.”

Hari ini

Orang tua saya terus membesarkan hatinya. “Jangan salahkan adikmu!” pinta mereka pada saya dalam setiap telepon. Saya berkomunikasi dengan adik lewat telepon, setiap orang tua saya menjenguknya. Tetap getir, putus asa, sinis dan kepahitan dari nada suaranya

Saya hanya bisa mendengar, bergurau, dan tertawa tanpa pernah berkomentar apa-apa dengan penutup, “Tetap tabah ya, Dek!”.

Dan dalam hati berkata, “I know what u did is wrong, I hope you can learn from it.” Setidaknya semua yang melekat pada dirimu, termasuk hp, ikat pinggang, sandal yang hilang didapat dengan keringat dan harga dirimu. And hey, abang bangga padamu, abang sayang padamu, kami semua sayang padamu

We, your family always sticking up for you even when we know you’re wrong..

August 16, 2007

Robert Panjaitan, Brother of Mine…

Filed under: Family — jannerthing @ 1:46 am

Surabaya, 11 Agustus 2006

If I go before I’m old
Oh brother of mine please don’t forget me if I go
Bartender, please fill my glass for me
With the wine you gave Jesus that set him free
After three days in the ground…

(bartender – dave matthews band)

Malam sebelumnya saya tidak memimpikan sesuatu, saya tidak punya perasaan apa-apa, sama sekali tidak merasakan sesuatu yang buruk bakal terjadi. Pagi hari sebelum alarm hp berbunyi, bunyi telepon terlebih dahulu membangunkan. Telepon dari rumah di Cirebon dan saya lupa kalau ini di luar kebiasan keluarga menelepon saya di waktu seperti ini.
“Ya!” saya menyahut.
“Ner, Ini Bapak.” suara di sana.
“Apa Pak? Tumben pagi-pagi telp?” tanya saya.
“Bapak mau kasih tahu sesuatu.” Suaranya terdengar serius.

Saya mulai tersadar, ini kalimat yang sama beliau katakan dua tahun lalu ketika menelepon di siang bolong. Waktu yang tidak biasa, kalimat yang sama. Saya mulai ketakutan.

Saya bangun dari tempat tidur, duduk di pinggir tempat tidur sambil tetap memegang telepon.
“Bang Robert, jam lima tadi uda gak ada.” Suaranya terdengar sedikit bergetar.

Sekarang Mama, kak Tiur ama Rina sudah ada di rumah sakit.” tambahnya.
“Ok, itu aja. Tenangkan hatimu, berdoa terutama buat keluarga bapatua biar diberi kekuatan dan ketabahan ya! Ya sudah, Bapa mau ke rumah sakit dulu sekarang.”

Saya tidak berdoa dan saya tidak bisa berdoa pagi itu….saya menangis.

Saya menangis sedih.

Ketika ompung doli meninggal, saya tidak menangis. Ketika ompung boru meninggal, saya tidak menangis. Lebih setahun yang lalu saya menangis, tapi itu tangis kebahagiaan

Pagi itu tidak ada siapa-siapa, hanya ada saya dan Tuhan. Saya menangis bersamaNYA

Dia bukan abang kandung saya, dia abang sepupu saya. Saya hanya punya seorang kakak dan dua adik kandung. Dia bukan sekedar abang bagi saya, dia seperti malaikat pelindung saya.

Robert Panjaitan, brother of mine

*****

Oh when I was young I didn’t think about it,
But now I can’t get it out of my mind
I’m on bended knee please father please…

Teringat masa ketika kami masih kanak-kanak. Setiap keluarga saya berkunjung ke rumahnya, mama pasti melarang saya setiap bang Robert mengajak keluar untuk bermain. Tapi kami selalu punya cara untuk keluar. Apa yang kami lakukan? Ya kami punya fight club sendiri. Dia sering mengadu saya berkelahi dengan tetangga-tetangganya yang 2-3 tahun di atas saya hanya dengan satu kalimat ajaib,
“Kamu berani gak sama anak itu? Kalau berani kasih ludah di depannya!”
Selanjutnya dia membuat dua lingkaran, let’s get it on…

Alhasil sepulangnya, mama selalu memarahi abang saya, apalagi jika melihat anaknya pulang dengan baju sobek-sobek, benjol, sedikit berdarah dengan lagak seperti pahlawan pulang perang.

Ya, abang saya yang mengajari tentang, “Kamu itu laki-laki, jangan pernah takut!”

Teringat waktu diajak menjual beras jatah tentara untuk keluarganya di pasar Guntur lalu pergi ke pasar Jagasatru untuk menangkap ayam (mungkin nyolong terang-terangan kalimat tepatnya) yang berkeliaran di sana lalu dijual ke pasar Kanoman. Semua uang yang kita dapat bisa buat nonton film di Galaxy dan main ding-dong di Abadi Murni.

Teringat waktu dia mengajari saya bagaimana mengambil semua koin hanya dengan patahan sapu lidi dari telepon umum tanpa merusak box telepon di pasar Guntur yang sepi di hari lebaran

Teringat ketika dia bercerita bagaimana heroiknya dia ketika kalah dan kalah lagi berkelahi, kesokan harinya dia pasti akan menantang lagi sampai enam hari berturut-turut sampai lawannya mengaku kalah.

Teringat bagaimana royalnya dia membelikan jajan atau membagi-bagikan uang setiap bertemu adik-adiknya di mana saja. Silahkan bertanya kepada semua sepupu saya, siapa sinterklas kami sebenarnya.
“Punya duit gak? Nih…buat beli jajan.” Atau “Mo makan bakso? Pangsit?”
Waktu itu kita semua berpikir uang jajan bang Robert pasti banyak sekali.

Teringat ketika mendapat masalah di jalan entah bagaimana dia bisa ada di tempat itu juga hanya untuk membantu berkelahi atau ada orang yang tidak dikenal datang, “Eh..lu adiknya Robert ya? Lu balik aja biar gue yang ngurus.”

Hingga ketika masa remaja datang menghampiri. Saya teringat., dia menghilang dari rumahnya selama dua tahun tanpa kabar, lengan tangannya penuh dengan goresan bekas luka, dan saya menemukan suntikan atau pil-pil laknat di lemari pakaiannya.

Kebaktian malam tahun baru keluarga, dia pulang bersama temannya dengan mata memerah dan bau alkohol di mana-mana.

Puncaknya terjadi ketika ada arisan bulanan punguan Siregar di rumahnya, dia pulang dalam keadaan teler, meracau tidak karuan di tengah banyak orang. Saya tidak berani melihat wajah bapa tua dan inang tua, bapa uda dan tante serta orang tua saya. “Ada apa, Bang? Kenapa?” hati saya berteriak.Semua orang memandangnya dan saya tahu arti pandangan menyedihkan itu. Dia sendiri bercerita kalau dia sudah memakai narkoba.

Dalam ketergantungannya, dia tetap abang yang humoris, royal, membela adik-adiknya, selalu mengatakan inilah hidup abang, jangan kamu atau adik-adik yang lain tiru. Selalu bercerita dengan bangga kepada teman-temanya jika dia punya adik-adik yang hebat, yang dia sendiri bahkan tidak tahu siapa saja namanya. “Hey Tek, nih liat adik gue!”

Itu fase terendah ketika semua orang memandang rendah hidupnya, ketika semua orang menganggap dia tidak layak untuk menjadi panutan.

Seorang abang, sahabat, sinterklas dan pahlawan saya ternyata sudah kalah dalam berperang.

Robert Panjaitan, brother of mine

*****

Oh if all this gold, should steal my soul away
Oh dear mother of mine, please redirect me if this gold
Bartender you see, this wine that’s drinking me
Came from the vine that strung Judas from the devil’s tree roots
Deep deep in the ground…

Dua minggu sebelum wafatnya, saya mendapat kabar tentang sakitnya. Dia terancam kebutaan dan harus melakukan operasi di sekitar kepalanya, karena ada pendarahan di sekitar otaknya akibat obat-obatan yang dia konsumsi di masa lalunya. Rencana operasi sudah dibuat, tapi Tuhan punya rencana lain dalam hidupnya. Tiga hari sebelum operasi bang Robert dipanggil Tuhan. Ya pagi itu, satu jam sebelum bapak saya menelpon.

Saya tahu bukan saya saja yang menangis, kami semua keluarganya menangis. Terasa sampai sekarang ketika mama, kak tiur, tante mela bercerita saat mereka bersama bang Robert di hari-hari terakhirnya. Banyak hal-hal luar biasa yang terjadi di sana. Banyak air mata, maaf, dan cinta yang hebat. Kalimat yang sama keluar dari orang tua kami, “Tuhan sayang bang Robert.”

Terima kasih buat kasih yang luar biasa. Akan ada cerita kepada anak cucu kami, kisah seorang abang yang hebat yang selalu ada ketika adik-adiknya dalam kesusahan, selalu membuat adik-adiknya tertawa ketika dalam kesedihan, selalu membuat adik-adiknya senang mendengar setiap ceritanya walaupun mereka tahu itu hanya bualan belaka. Kisah seorang abang yang bagi kami sangat luar biasa. Seperti yang sering saya jawab ketika orang bertanya tentangmu, “Ya, dia abang saya!”

Robert Panjaitan, brother of ours

(Selalu hadir dalam kenangan kami kakak, abang dan adik-adiknya. Kak Merry, bang Anto, Meyer, Tiur, Janner, Rina, Simon, Mela, Nova, Paul, Jack, David, Sari, Martha, Fany, Hadi, Kelvin )

December 6, 2006

Bapak Oyong!

Filed under: Dunia Sofie — jannerthing @ 1:47 pm

“Bapak Oyong!” demikian Sofie dan anak kecil lainnya biasa memanggil, saya memanggilnya cak Oyong. Ia mempunyai istri dan seorang anak perempuan, pekerjaannya mengumpulkan barang bekas, mulai dari buku, majalah hingga barang elektronik. Istri dan anak perempuannya membuka warung di rumah mereka.

Cak Oyong dekat dengan anak-anak kecil di sekitar kos saya. Ia sering memberikan mainan dari barang bekas perolehannya atau hanya sekedar memberi uang jajan walau hanya 500 – 1000 perak ataupun mengajak anak-anak berkeliling dengan becak kecil yang kadang ia pakai mengangkut barang. Yang paling saya ingat adalah koor serempak dari anak-anak kecil yang datang datang ke rumahnya, “Bapak Oyoonnggg!!!”

Sabtu pagi itu, saya masih berbicara dengan “dia”, ketika terdengar woro-woro lewat speaker masjid dekat kost saya, “Inallillahi wainnalillahi roji’un, telah meninggal dunia…..” Saya terdiam sejenak ketika mendengar nama cak Oyong disebut. “Ya Tuhan!” suara saya lirih. Komplikasi diabetes dan darah tinggi sudah mengalahkannya. Ya, cak Oyong meninggal dunia pagi itu.
Sofie digendong pak de-nya datang sepulang dari TK sewaktu cak Oyong disholati di masjid. Sofie berlari ke arah saya, sesaat setelah menolak diajak pulang pak de-nya. Saya berjongkok ketika dia datang menduduki paha saya.
“Nanti kalo bapak Oyong sudah dikubur, pasirnya mau Ofie buang. Terus Ofie bawa ke rumah sakit biar bapak Oyong gak mati.”
Mendengar kalimat Sofie, sejenak jiwa saya melemah. Lalu saya memeluk dan mencium keningnya.
“Ofie bingung om Janner. mba Fifi masuk rumah sakit tapi gak mati, bapak Oyong masuk rumah sakit kok mati sih?”
*Gimana nih jawabnya Tuhan?*

Saya teringat satu ayat kitab suci yang mengatakan, datanglah ke pemakaman untuk mengetahui apakah seseorang itu dicintai atau tidak.
Ya, saya melihat buktinya dalam pemakaman cak Oyong. Dari yang tua hingga anak-anak ikut mengantarkan cak Oyong ke tempat terakhirnya, sekitar 250-300 orang datang ke pemakaman cak Oyong. *Whatta love….*
Sofie merangsek sampai ke tepi liang lahat, “Sofie mau lihat bapak Oyong!” teriaknya dengan wajah sedikit berpeluh melawan panasnya siang. Saya hanya bisa memeganginya untuk tidak melangkah lebih jauh. Selama prosesi pemakaman, Sofie lebih banyak terdiam. Hingga saat jenazah cak Oyong mulai ditutup tanah, Sofie meminta saya untuk mengangkat badannya ke arah rimbunan bunga pohon kamboja yang berdiri tepat di sebelah kami. Dipetiknya beberapa, dilemparnya ke arah timbunan tanah makam cak Oyong.
“Ofie kasih bunga buat bapak Oyong ya.” *moment of silent*

Tertutup sudah kubur cak Oyong dan saya tidak akan mendengar lagi Sofie berteriak memanggil, “Bapak Oyoonnggg!”

September 14, 2006

Busyet! Aku Tertipu Lagi….

Filed under: Dunia Sofie — jannerthing @ 2:27 pm

Saya diminta bu Mah (pembantu kost) menemani Sofie siang itu. Saat itu dia sibuk di dapur menyiapkan makanan buat acara keluarga ibu kost. Berhubung siang itu saya juga malas untuk “berdiskusi” dengan Sofie karena “resiko”nya besar, bisa capek dan sakit kepala sendiri mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan polosnya yang tak pernah berhenti. Lalu saya tidur-tiduran di depan TV dan saya meminta Sofie nginjek-nginjekin punggung saya. Yeah..resiko yang saya hadapi juga kecil, paling-paling dia tidak sekedar nginjek-nginjekin tapi meloncat-loncat tak terduga di atas punggung bisa sampai terdengar bunyi “krek” terus tertawa keras karena saya berteriak kaget, “Kingkong, woiy…sakit tau!” dan loncatannya bakal makin seru, sekeras tawanya yang tiada henti. *arek gendeng*

TV tidak boleh mati selama Sofie ada di situ, itu aturan utama di kost saya. Ya TV tetap menyala waktu saya rebahan dan Sofie mulai nginjek-nginjek punggung saya. Belum berapa lama, terdengar suara lagu dari TV, ya di TV ada klip Buaya Darat –nya Ratu. Sofie berhenti menginjak punggung saya dan berjalan ke depan TV. Saya pun berbalik duduk mau melihat apa yang dia lakukan. Mau tahu apa yang Sofie lakukan waktu liat klip itu?…ya dia berdiri sekitar satu meter di depan TV dan menari-nari sendiri. Sebenarnya bukan menari tetapi goyang pantat tepatnya,..lha wong yang goyang cuma pantatnya doang *bayangkan bebek yang sedang bergoyang* :-D

Sampai refrain buaya darat, mendadak Sofie berhenti menari.
“Lho, napa anak gendeng ini berhenti joget?” pikirku
Tau-tau Sofie berbalik dan mendekati saya, terus ngomong begini,
“Om, buaya daratnya salah.”
Heh?…..saya memandangnya bingung. Saya tahu saya bakal dapat kejutan siang itu
Lalu saya bertanya, “Lho..apanya yang salah? Emang Sofie bisa nyanyinya?”
Sofie langsung merespon, “Bisa Om! Denger ya!”
Lalu terdengarlah refrain buaya darat.

Lelaki buaya darat, Busyet!
Aku Tertipu lagi…..

Ya cuma itu doang, terus saya bertanya,
“Lho itukan bener? Apanya yang salah?”
Ekspresi wajah Sofie berubah jadi tidak sabar,…ughh saya paling benci situasi ini, seorang pria 20 tahunan diajari oleh anak berumur 5 tahun. *kampret*
“Sofie kan rumahnya di Surabaya ya?” mulai menerangkan.
Saya mulai gila mendengarnya.
“Ya, Om Janner ama Sofie ada di Surabaya. Terus?” saya kembali bertanya.
“Kalau nyanyinya, lelaki buaya darat, busyet…aku tertipu lagi, itu buat di Jakarta, bukan di Surabaya, Om!” terangnya lagi.
Aduh..saya benar-benar penasaran, apalagi kejutan dari kingkong satu ini.
“Busyet itu kalo di Jakarta, misuh ya Om?” lanjutnya
Aduh..malah dia balik nanya
“Bukan ah, kamu kata siapa?” Saya menjawab dengan kebingungan
“Wis tah Om, misuh kan?” lanjutnya memaksa
“Ya wis karepmu, terus gimana?” jawab saya mengalah biar cepet selesai.
“Jadi busyetnya itu diganti Om!” jawabnya dengan ekspresi senang.
“Ya kalo diganti, terus jadi gimana dong nyanyinya?” saya memintanya
“Begini, Om.” Dan Sofie pun mulai mengulangi refrain buaya darat.

Lelaki buaya darat, Jamput!
Aku tertipu lagi…..

Wuayaa……….,
Saya teringat ketika mendengar dia misuh, “jancuk!” pertama kalinya, saya memarahinya sampai menangis. Tapi entah untuk yang ini saya malah tertawa terbahak-bahak malah. Yeah..bagi saya apa yang Sofie nyanyikan jauh lebih manusiawi dan realistis yang seharusnya dilakukan wanita nyanyikan. Bayangkan,…ketika tahu dia kembali ditipu oleh seorang pria yang sama cuma bilang, …busyet aku tertipu lagi! Yang ada pasti makian, kutukan, sumpah serapah yang keluar. I bet u all girls did it!
Mungkin saya akan lebih menghargai wanita-wanita yang ditipu para buaya darat untuk bernyanyi, *ampuni aku Tuhan!*

Lelaki buaya darat, Jancuk! (silahkan ganti dengan sumpah serapah lainnya)
Aku tertipu lagi….

Hush, udah ah jangan misuh terus!

Sofie, You Rock, Girl!

Blog at WordPress.com.