Surabaya, 11 Agustus 2006
If I go before I’m old
Oh brother of mine please don’t forget me if I go
Bartender, please fill my glass for me
With the wine you gave Jesus that set him free
After three days in the ground…
(bartender – dave matthews band)
Malam sebelumnya saya tidak memimpikan sesuatu, saya tidak punya perasaan apa-apa, sama sekali tidak merasakan sesuatu yang buruk bakal terjadi. Pagi hari sebelum alarm hp berbunyi, bunyi telepon terlebih dahulu membangunkan. Telepon dari rumah di Cirebon dan saya lupa kalau ini di luar kebiasan keluarga menelepon saya di waktu seperti ini.
“Ya!” saya menyahut.
“Ner, Ini Bapak.” suara di sana.
“Apa Pak? Tumben pagi-pagi telp?” tanya saya.
“Bapak mau kasih tahu sesuatu.” Suaranya terdengar serius.
Saya mulai tersadar, ini kalimat yang sama beliau katakan dua tahun lalu ketika menelepon di siang bolong. Waktu yang tidak biasa, kalimat yang sama. Saya mulai ketakutan.
Saya bangun dari tempat tidur, duduk di pinggir tempat tidur sambil tetap memegang telepon.
“Bang Robert, jam lima tadi uda gak ada.” Suaranya terdengar sedikit bergetar.
“Sekarang Mama, kak Tiur ama Rina sudah ada di rumah sakit.” tambahnya.
“Ok, itu aja. Tenangkan hatimu, berdoa terutama buat keluarga bapatua biar diberi kekuatan dan ketabahan ya! Ya sudah, Bapa mau ke rumah sakit dulu sekarang.”
Saya tidak berdoa dan saya tidak bisa berdoa pagi itu….saya menangis.
Saya menangis sedih.
Ketika ompung doli meninggal, saya tidak menangis. Ketika ompung boru meninggal, saya tidak menangis. Lebih setahun yang lalu saya menangis, tapi itu tangis kebahagiaan
Pagi itu tidak ada siapa-siapa, hanya ada saya dan Tuhan. Saya menangis bersamaNYA
Dia bukan abang kandung saya, dia abang sepupu saya. Saya hanya punya seorang kakak dan dua adik kandung. Dia bukan sekedar abang bagi saya, dia seperti malaikat pelindung saya.
Robert Panjaitan, brother of mine
*****
Oh when I was young I didn’t think about it,
But now I can’t get it out of my mind
I’m on bended knee please father please…
Teringat masa ketika kami masih kanak-kanak. Setiap keluarga saya berkunjung ke rumahnya, mama pasti melarang saya setiap bang Robert mengajak keluar untuk bermain. Tapi kami selalu punya cara untuk keluar. Apa yang kami lakukan? Ya kami punya fight club sendiri. Dia sering mengadu saya berkelahi dengan tetangga-tetangganya yang 2-3 tahun di atas saya hanya dengan satu kalimat ajaib,
“Kamu berani gak sama anak itu? Kalau berani kasih ludah di depannya!”
Selanjutnya dia membuat dua lingkaran, let’s get it on…
Alhasil sepulangnya, mama selalu memarahi abang saya, apalagi jika melihat anaknya pulang dengan baju sobek-sobek, benjol, sedikit berdarah dengan lagak seperti pahlawan pulang perang.
Ya, abang saya yang mengajari tentang, “Kamu itu laki-laki, jangan pernah takut!”
Teringat waktu diajak menjual beras jatah tentara untuk keluarganya di pasar Guntur lalu pergi ke pasar Jagasatru untuk menangkap ayam (mungkin nyolong terang-terangan kalimat tepatnya) yang berkeliaran di sana lalu dijual ke pasar Kanoman. Semua uang yang kita dapat bisa buat nonton film di Galaxy dan main ding-dong di Abadi Murni.
Teringat waktu dia mengajari saya bagaimana mengambil semua koin hanya dengan patahan sapu lidi dari telepon umum tanpa merusak box telepon di pasar Guntur yang sepi di hari lebaran
Teringat ketika dia bercerita bagaimana heroiknya dia ketika kalah dan kalah lagi berkelahi, kesokan harinya dia pasti akan menantang lagi sampai enam hari berturut-turut sampai lawannya mengaku kalah.
Teringat bagaimana royalnya dia membelikan jajan atau membagi-bagikan uang setiap bertemu adik-adiknya di mana saja. Silahkan bertanya kepada semua sepupu saya, siapa sinterklas kami sebenarnya.
“Punya duit gak? Nih…buat beli jajan.” Atau “Mo makan bakso? Pangsit?”
Waktu itu kita semua berpikir uang jajan bang Robert pasti banyak sekali.
Teringat ketika mendapat masalah di jalan entah bagaimana dia bisa ada di tempat itu juga hanya untuk membantu berkelahi atau ada orang yang tidak dikenal datang, “Eh..lu adiknya Robert ya? Lu balik aja biar gue yang ngurus.”
Hingga ketika masa remaja datang menghampiri. Saya teringat., dia menghilang dari rumahnya selama dua tahun tanpa kabar, lengan tangannya penuh dengan goresan bekas luka, dan saya menemukan suntikan atau pil-pil laknat di lemari pakaiannya.
Kebaktian malam tahun baru keluarga, dia pulang bersama temannya dengan mata memerah dan bau alkohol di mana-mana.
Puncaknya terjadi ketika ada arisan bulanan punguan Siregar di rumahnya, dia pulang dalam keadaan teler, meracau tidak karuan di tengah banyak orang. Saya tidak berani melihat wajah bapa tua dan inang tua, bapa uda dan tante serta orang tua saya. “Ada apa, Bang? Kenapa?” hati saya berteriak.Semua orang memandangnya dan saya tahu arti pandangan menyedihkan itu. Dia sendiri bercerita kalau dia sudah memakai narkoba.
Dalam ketergantungannya, dia tetap abang yang humoris, royal, membela adik-adiknya, selalu mengatakan inilah hidup abang, jangan kamu atau adik-adik yang lain tiru. Selalu bercerita dengan bangga kepada teman-temanya jika dia punya adik-adik yang hebat, yang dia sendiri bahkan tidak tahu siapa saja namanya. “Hey Tek, nih liat adik gue!”
Itu fase terendah ketika semua orang memandang rendah hidupnya, ketika semua orang menganggap dia tidak layak untuk menjadi panutan.
Seorang abang, sahabat, sinterklas dan pahlawan saya ternyata sudah kalah dalam berperang.
Robert Panjaitan, brother of mine
*****
Oh if all this gold, should steal my soul away
Oh dear mother of mine, please redirect me if this gold
Bartender you see, this wine that’s drinking me
Came from the vine that strung Judas from the devil’s tree roots
Deep deep in the ground…
Dua minggu sebelum wafatnya, saya mendapat kabar tentang sakitnya. Dia terancam kebutaan dan harus melakukan operasi di sekitar kepalanya, karena ada pendarahan di sekitar otaknya akibat obat-obatan yang dia konsumsi di masa lalunya. Rencana operasi sudah dibuat, tapi Tuhan punya rencana lain dalam hidupnya. Tiga hari sebelum operasi bang Robert dipanggil Tuhan. Ya pagi itu, satu jam sebelum bapak saya menelpon.
Saya tahu bukan saya saja yang menangis, kami semua keluarganya menangis. Terasa sampai sekarang ketika mama, kak tiur, tante mela bercerita saat mereka bersama bang Robert di hari-hari terakhirnya. Banyak hal-hal luar biasa yang terjadi di sana. Banyak air mata, maaf, dan cinta yang hebat. Kalimat yang sama keluar dari orang tua kami, “Tuhan sayang bang Robert.”
Terima kasih buat kasih yang luar biasa. Akan ada cerita kepada anak cucu kami, kisah seorang abang yang hebat yang selalu ada ketika adik-adiknya dalam kesusahan, selalu membuat adik-adiknya tertawa ketika dalam kesedihan, selalu membuat adik-adiknya senang mendengar setiap ceritanya walaupun mereka tahu itu hanya bualan belaka. Kisah seorang abang yang bagi kami sangat luar biasa. Seperti yang sering saya jawab ketika orang bertanya tentangmu, “Ya, dia abang saya!”

Robert Panjaitan, brother of ours
(Selalu hadir dalam kenangan kami kakak, abang dan adik-adiknya. Kak Merry, bang Anto, Meyer, Tiur, Janner, Rina, Simon, Mela, Nova, Paul, Jack, David, Sari, Martha, Fany, Hadi, Kelvin )